UPDATEBALI.com, DENPASAR – Dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menggelar widyatula (sarasehan) bertajuk “Memaknai Keindahan Tari Legong dalam Uang Rupiah” di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar pada 18 Juli 2025.
Acara dibuka oleh Advisor Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Indra Gunawan Sutarto, dan dihadiri Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Putu Agus Yudiantara, A.Par., M.Par. Sebanyak 300 peserta hadir, terdiri dari insan perbankan, seniman, pelajar SMP dan SMA/K se-Kota Denpasar, guru pendamping, perwakilan Disdikpora Kota Denpasar, hingga komunitas budaya seperti Teruna Teruni, Jegeg Bagus, dan Forum Anak Daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia memberikan apresiasi khusus kepada budayawan Tari Legong, Prof. Dr. I Made Bandem, M.A., atas kontribusinya dalam melestarikan seni tradisi Bali yang kini menjadi salah satu ikon pada desain uang kertas Rupiah.
Dalam sambutannya, Indra Gunawan Sutarto menegaskan bahwa kehadiran Tari Legong pada uang kertas Rp50.000 bukan sekadar ornamen visual, melainkan simbol penghargaan negara terhadap kekayaan budaya nusantara.
“Tari Legong mencerminkan keindahan, ketelitian, dan kekompakan gerakan yang selaras dengan prinsip Bank Indonesia dalam menjaga Rupiah—presisi, kehati-hatian, serta tanggung jawab menyalurkan uang layak edar ke seluruh pelosok negeri,” jelasnya.
Putu Agus Yudiantara menambahkan, seni budaya tidak hanya hidup di panggung pertunjukan, tetapi juga mewujud dalam media lain, termasuk mata uang.
“Kolaborasi ini memperluas pemahaman masyarakat bahwa seni dapat berdampak pada sektor ekonomi, khususnya di momen PKB ke-47 ini,” katanya.
Tiga narasumber hadir dalam diskusi, yaitu Prof. Dr. I Made Bandem, seniman Tari Legong Anak Agung Mas Sudarningsih, S.Sn., M.Pd., serta Kepala Seksi Pengelolaan Uang Rupiah BI Bali, Agus Mulyawan Dana.
Prof. Bandem mengulas perjalanan Legong dari akar tradisinya, Sanghyang Dedari, hingga pengakuannya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2015.
“Kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada ekonomi dan politik, tetapi juga pada warisan budayanya yang hidup dan bernilai luhur,” tegasnya.
Sementara itu, Anak Agung Mas Sudarningsih mengungkapkan bahwa digitalisasi membuka peluang baru bagi seni tradisi untuk tetap relevan tanpa menghilangkan nilai aslinya.
Di sisi lain, Agus Mulyawan Dana menjelaskan langkah Bank Indonesia menjaga kualitas Rupiah, mulai dari evaluasi desain agar mudah dikenali, penguatan fitur pengaman, hingga peningkatan kualitas bahan.
“Rupiah bukan hanya simbol budaya, tapi juga bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, termasuk melalui pembayaran digital seperti QRIS yang Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Andal,” ujarnya.
Selain literasi budaya, BI juga mengajak masyarakat meningkatkan literasi keuangan dan perlindungan konsumen melalui program FliRaga, agar tetap waspada dalam bertransaksi di era digital.
Acara ini menegaskan peran budaya sebagai pengikat nilai Rupiah, sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat bahwa seni, ekonomi, dan teknologi dapat berjalan beriringan dalam mendukung kedaulatan bangsa.(yan/ub)





