UPDATEBALI.com, DENPASAR – Salah satu perupa Desa Cau Belayu dari Komunitas Maha Rupa Batukaru yang bernama Wayan Santrayana memamerkan ‘Plastik Kala’ yang berwujud Patung Kala Rau.
Wayan Santrayana (56) asal Desa Cau Belayu Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, mengikuti pameran bersama Komunitas Maha Rupa Batukaru dengan tema bertajuk ‘Pesan dari Barat’.
Santrayana menunjukkan karya seni terbarunya berupa patung yang diberi nama ‘Plastik Kala’. Karya ini membutuhkan proses inspirasi cukup panjang sehingga melahirkan ide yang berkesan dan monumental ini.
Karya patung Plastik Kala dengan bentuk patung menyerupai ‘Kala Rau’ (simbol roh jahat) yang dihasilkan dari mengumpulkan plastik-plastik bekas kemasan di lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal, di tempat sampah di sekolah-sekolah, dan sampah tas kresek atau botol-botol plastik di pinggiran jalan.
“Kalau proses mencetaknya hanya membutuhkan waktu tiga hari. Hanya saja untuk memikirkan bentuk, karakter, dan simbol-simbol yang tepat untuk patungnya cukup lama. Ini bentuknya Kala Rau dan karya patung ini diberi nama Plastik Kala. Maknanya, saat manusia lalai atau lupa terhadap limbah plastik, maka limbah plastik akan menjadi ‘kala’ dalam kehidupan bermasyarakat, dia akan ‘memakan’ langsung kehidupan umat manusia,” ucap Santrayana saat menjelaskan karyanya, yang mengikuti pameran di Griya Santrian Gallery di Jalan Danau Tamblingan No. 47, Sanur, Bali pada Kamis 14 September 2023 kemarin.
Dikatakan Santrayana yang sangat berpengalaman tidak saja membuat karya berupa patung, tetapi juga berkarya membuat lukisan-lukisan yang mengedukasi individu untuk peduli terhadap lingkungan mereka.
Namun kali ini, dengan ide karya Plastik Kala, Santrayana lebih menekankan sifat menakutkan dari Kala Rau bagi manusia. Kala Rau dapat menimbulkan persoalan, sama seperti sampah-sampah plastik kemasan yang tidak dikelola dengan benar akan mengakibatkan bencana alam.
“Kala Rau itu menakutkan, kami ingin membuat manusia sadar dan mengedukasi manusia sudah sadar. Dari bahan-bahan limbah plastik ini dikumpulan dari rumah, di kantin sekolah, lalu plastik dicairkan dengan teknik khusus dan menghasilkan berat Kala Plastik ini seberat kurang lebih 50 Kg. Dari sekolah khususnya anak-anak kami juga edukasi untuk menjaga kebersihan lingkungan,” bebernya.
Patung Plastik Kala sekaligus memberikan gambaran individu manusia tidak saja berkutat dalam teori semata, tetapi praktik langsung membersihkan lingkungan.
Selain itu, hasil karya Santrayana memberi edukasi bahwa sampah plastik dapat merusak lingkungan, sehingga dia merasa terpanggil sebagai seniman untuk memberikan edukasi secara tidak langsung.
“Saya juga ajak siswa-siswi di sekolah untuk berpraktik menghasilkan karya-karya seni yang positif. Edukasi itu sekaligus mengajak masyarakat dan anak-anak untuk sungkan membuang sampah plastik sembarangan,” ajaknya. (den/ub)





