Monumen Puputan Badung Diperkuat Diorama Baru, Marmar Herayukti Bawa Cerita Leluhur ke Ruang Publik

0
317
Monumen Puputan Badung Diperkuat Diorama Baru, Marmar Herayukti Bawa Cerita Leluhur ke Ruang Publik
Monumen Puputan Badung Diperkuat Diorama Baru, Marmar Herayukti Bawa Cerita Leluhur ke Ruang Publik. Sumber foto: den/ub

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Seniman Bali Marmar Herayukti mempersembahkan karya monumental terbarunya bertajuk “Diorama Puputan Badung”, sebuah interpretasi visual tiga dimensi mengenai peristiwa Puputan Badung 1906.

Karya ini kini melengkapi kehadiran Patung Pahlawan di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, dan menjadi elemen baru dalam narasi sejarah perjuangan rakyat Bali.

Patung Pahlawan, hasil rancangan tiga insinyur muda Bali pada tahun 1978 dan direalisasikan maestro patung nasional Edhi Sunarso pada 1979, kini berdiri dengan orientasi baru menghadap ke utara. Menurut Marmar, perubahan posisi tersebut dilakukan agar monumen lebih mudah dibaca publik dan memperkuat daya jangkau sejarahnya.

“Monumen bukan sekadar objek estetika. Ia hidup ketika mampu berinteraksi dengan publik. Nilai sejarah harus terasa oleh siapa pun yang melintas,” ujarnya.

“Diorama Puputan Badung” terdiri dari panel-panel logam bertekstur yang digarap melalui proses manual dan pengecoran. Setiap panel menarasikan adegan penting peristiwa Puputan Badung, mulai dari dialog rakyat dengan raja, invasi kolonial Belanda, hingga momen mapuputan keluarga kerajaan dan rakyat Badung.

Baca Juga:  Pemkab Tabanan dan Paiketan Seniman Tabanan Kolaborasi Gelar Workshop Joged Bumbung

Marmar menjelaskan bahwa diorama ini hadir sebagai cara baru mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, merasakan kembali emosi, nilai, dan semangat heroik para leluhur.

“Kami ingin narasi sejarah tidak berhenti di buku. Detail visual dapat membantu publik memahami sisi kemanusiaan dari peristiwa besar ini,” ucapnya.

Marmar Herayukti, Seniman asal Bali.
Marmar Herayukti, Seniman asal Bali. Sumber foto : Den/ub

Penataan monumen terbaru juga memperhatikan aspek inklusivitas. Marmar merancang jalur ram dan guiding block untuk penyandang disabilitas agar monumen menjadi ruang publik yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.

“Semua orang berhak merasakan nilai sejarah. Yang tak bisa berjalan pun punya hak menentukan langkah, dan yang tak bisa melihat tetap memiliki pandangan,” katanya.

Baca Juga:  Dukung Seniman dan Kuliner Lokal, Bupati Sanjaya Resmi Buka Marga Festival 2024

Proses kreatif Marmar melibatkan riset panjang dengan berbagai sumber. Ia berdiskusi dengan ahli sejarah, budaya, sastra, arsitektur Bali, serta keluarga Puri. Ia juga didukung keluarga Edhi Sunarso melalui arsip dokumentasi pembuatan patung utama.

Riset tersebut ditambah eksplorasi artefak era Puputan, termasuk koleksi benda pusaka yang baru kembali ke Indonesia dari Belanda. Seluruh referensi ini menjadi pijakan utama penciptaan adegan diorama secara autentik dan berlapis makna.

Melalui karya ini, Marmar berharap semangat Puputan Badung dapat terus hidup di benak masyarakat. Menurutnya, diorama ini bukan hanya komposisi visual, tetapi ruang refleksi yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Baca Juga:  Hadiri Sarasehan Seni Komunitas Maharupa Batukaru, Bupati Sanjaya Motivasi Seniman Tabanan untuk Semangat Berkreasi

“Semangat para leluhur harus dikenali kembali, agar kita mengerti dari mana kita berasal dan ke mana budaya kita menuju,” tuturnya.

Putu Marmar Herayukti (13 September 1983) adalah seniman multitalenta asal Denpasar. Ia dikenal sebagai pematung, pelukis, tattoo artist, vokalis band rock, serta atlet kickboxing. Karya-karyanya banyak dieksplorasi melalui pendekatan tradisi Bali, teknik kontemporer, serta riset sejarah.

Pada 2014 ia menginisiasi gerakan Ogoh-Ogoh ramah lingkungan berbasis anyaman bambu, menghidupkan kembali tradisi “ngulat”. Tahun 2019 ia mendirikan MarmarHerrz Studio, ruang eksplorasi seni yang menghasilkan berbagai karya publik, termasuk patung Ratu Ayu Mas Melanting di Pasar Badung.

Di luar karya seni, Marmar aktif berkendara keliling Bali untuk mencari inspirasi dan membangun hubungan dengan lingkungan yang menjadi sumber energi kreatifnya. (den/ub)