spot_img
spot_img
BerandaBaliMikroplastik Mengancam Burung Dunia, Dari Paru-paru hingga Rantai Makanan

Mikroplastik Mengancam Burung Dunia, Dari Paru-paru hingga Rantai Makanan

UPDATEBALI.comDENPASAR – Ancaman mikroplastik terhadap satwa liar kian mengkhawatirkan. Jika dua dekade lalu para peneliti menemukan bahwa perubahan nyanyian burung dapat menjadi indikator gangguan lingkungan akibat aktivitas manusia, kini bahaya yang dihadapi burung jauh lebih kompleks. Partikel mikroplastik dan nanoplastik dilaporkan telah mencemari sistem pencernaan hingga paru-paru burung di berbagai belahan dunia.

Penelitian awal terhadap 200 rekaman suara burung Dupont’s lark di Spanyol dan Maroko menunjukkan bahwa hilangnya habitat berdampak pada kemampuan komunikasi spesies tersebut. Temuan itu menjadi peringatan dini tentang dampak aktivitas manusia terhadap satwa. Namun perkembangan terbaru menunjukkan ancaman tak lagi sebatas perubahan perilaku, melainkan paparan zat berbahaya yang masuk ke dalam tubuh burung.

Syed Shariq Hussein Dosen Pembantu di Jindal School of Government and Public Policy, O.P. Jindal Global University, Sonipat, Haryana menjelaskan sebuah studi di sekitar Bandara Chengdu Tianfu, China, menemukan partikel mikroplastik dan nanoplastik di paru-paru 51 spesies burung. Rata-rata kepadatan partikel mencapai 221,20 per spesies dan 416,22 mikroplastik per gram jaringan paru-paru. Para peneliti menyatakan seluruh burung yang diperiksa tanpa memandang ukuran tubuh, habitat, maupun pola makan yang terkontaminasi partikel plastik.

Baca Juga:  Pemerintah Badung Segera Bangun RS Abiansemal dan RS Petang

“Penelitian lain pada 2024 di kawasan konservasi burung langka di Provinsi Jiangsu, China, menemukan mikroplastik dalam feses 110 burung. Temuan tersebut memperlihatkan keterkaitan erat antara tingkat pencemaran habitat dengan partikel yang tertelan satwa,” ujarnya.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di China. Studi serupa dilakukan di Amerika Utara, Australia, dan Eropa Selatan. Di pesisir barat India, dalam dua tahun terakhir, mikroplastik terdeteksi di sepuluh kawasan penting peristirahatan musim dingin burung migran. Penelitian pada Januari 2025 menunjukkan air menjadi medium utama penyebaran partikel plastik, dengan serat mikro sebagai jenis paling dominan ditemukan pada burung pantai.

Di Coimbatore, Tamil Nadu, mikroplastik teridentifikasi dalam kotoran burung kingfisher biasa di rawa Sungai Noyyal. Pemeriksaan laboratorium menemukan unsur polietilen dan polipropilen. Pada 2024, India diperkirakan membuang 391.879 ton mikroplastik ke perairan, menjadikannya pencemar terbesar kedua di dunia setelah China.

Ekosistem sungai pun tak luput dari ancaman. Penelitian di sepanjang Sungai Chandragiri di Kerala dan Karnataka menemukan tingkat kontaminasi tinggi pada moluska air tawar. Sebanyak 667 partikel mikroplastik ditemukan dalam 288 sampel moluska di Coimbatore pada 2024. Invertebrata air seperti zooplankton, kerang, dan tiram diketahui menelan mikroplastik secara tidak sengaja. Organisme ini kemudian dikonsumsi ikan dan moluska lain yang menjadi santapan burung laut, memperluas paparan melalui rantai makanan.

Baca Juga:  Krisis Iklim Sebabkan Jutaan Anak Indonesia Tanggung Beban Berat

Secara global, sekitar 40 persen burung laut tercatat pernah menelan plastik. Partikel tersebut berisiko menyumbat atau merusak sistem pencernaan. Studi di Eropa pada 2019 menemukan enam dari 16 spesies burung yang diteliti memiliki endapan mikroplastik di saluran cerna. Penelitian terbaru di Australia juga mendapati konsentrasi mengkhawatirkan pada anak burung laut.

Syed Shariq Hussein memaparkan, ancaman tak hanya berasal dari laut. Polusi udara turut berperan menyebarkan partikel mikroplastik. Di Turki, studi 2025 mendeteksi mikroplastik pada 50 persen spesies burung yang diteliti, dengan konsentrasi tertinggi pada elang ular bercakar pendek.

Di wilayah pesisir India, variasi jenis mikroplastik yang tertelan burung pantai dipengaruhi strategi makan masing-masing spesies. Biofilm atau koloni mikroorganisme yang menempel pada permukaan plastik disebut menjadi media transfer signifikan. Sumber umum partikel ini berasal dari peralatan memancing yang dibuang serta limbah domestik kota-kota pesisir. Sejumlah penelitian yang dipublikasikan Oktober 2024 mengidentifikasi polietilen, polipropilen, polistiren, polivinil klorida, dan nitril dalam kotoran sepuluh spesies burung migran.

Baca Juga:  Dalam Rangka Hari PMI, Wabup Kasta Gelar Kegiatan Penyerahan Bantuan Sembako di Nusa Penida

Kondisi tersebut menunjukkan pencemaran plastik telah meluas pada badan air, bahkan berpotensi menyebar melalui udara. Ikan, penyu, dan burung menjadi kelompok paling rentan.

Sejumlah upaya global sebenarnya telah dilakukan. Kampanye Clean Seas pada 2017 mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Pada tahun yang sama, Para Pihak Konvensi Spesies Migran sepakat menangani persoalan alat tangkap ikan yang hilang di laut. Pemerintah India juga mengusulkan rencana konservasi burung 2020–2030 untuk melindungi 1.317 spesies dari ancaman urbanisasi dan pencemaran.

Namun tantangan terbesar dinilai terletak pada implementasi kebijakan. Para ahli menekankan perlunya pengendalian ketat pembuangan limbah di habitat penting seperti rawa-rawa dan kawasan pesisir, serta pengurangan signifikan penggunaan plastik sekali pakai. Upaya memahami sumber utama polusi dan jalur paparan terhadap burung dinilai krusial guna merumuskan strategi mitigasi yang efektif.

“Mikroplastik yang tak kasatmata kini menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan spesies burung di dunia. Tanpa langkah tegas dan terkoordinasi, dampaknya dikhawatirkan semakin meluas, tidak hanya bagi satwa liar, tetapi juga bagi keseimbangan ekosistem global,” ungkapnya.

Artikel ini pertama kali dipublikasikan tanggal 12 Juni 2025 di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments