UPDATEBALI.com, DENPASAR – Komitmen Pemerintah Kota Denpasar dalam menghadirkan kegiatan yang ramah lingkungan kembali diwujudkan melalui penerapan pengelolaan sampah berbasis sumber pada gelaran D’Youth Fest 6.0 Tahun 2026.
Berkolaborasi dengan Komunitas Eling Ring Pertiwi, seluruh sampah yang dihasilkan selama pelaksanaan festival di Kawasan Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung Denpasar, Sabtu, 11 Juli 2026 hingga Minggu, 12 Juli 2026, langsung dipilah dan dikelola di lokasi kegiatan.
Langkah tersebut menjadi lanjutan dari penerapan sistem serupa pada Denpasar Festival (Denfest) 2025. Melalui pengelolaan dari sumbernya, sampah yang berpotensi masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat ditekan secara signifikan.
Perwakilan Komunitas Eling Ring Pertiwi, Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada, mengatakan pengelolaan sampah telah dilakukan sejak awal kegiatan dengan melibatkan relawan dan pelajar. Pada hari pertama pelaksanaan D’Youth Fest 6.0, sebanyak 54 siswa dan 38 relawan diterjunkan untuk melakukan edukasi, pemilahan, hingga pengolahan sampah di berbagai titik festival.
“Sampah yang dihasilkan tidak dibiarkan menumpuk, tetapi langsung dipilah dan dikelola di sumbernya. Sampah organik kami olah melalui Teba Modern, sampah anorganik disalurkan ke Bank Sampah agar dapat didaur ulang, sedangkan sampah residu selanjutnya ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar. Dengan sistem ini, kami optimistis volume sampah dari pelaksanaan D’Youth Fest yang dibuang ke TPA dapat ditekan secara signifikan,” ujar Agung Ngurah.
Ia menjelaskan, keberhasilan pengelolaan sampah berbasis sumber membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, pelajar, hingga masyarakat yang hadir dalam kegiatan.
Menurutnya, persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu pihak. Karena itu, D’Youth Fest 6.0 tidak hanya menjadi ruang kreativitas generasi muda, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
“Permasalahan sampah merupakan persoalan yang bersifat holistik. Semua harus memiliki kemauan untuk ikut mengambil peran sesuai kapasitasnya. Ketika kesadaran itu tumbuh bersama, kami yakin pengelolaan sampah berbasis sumber akan berhasil dan mampu menjadi budaya baru dalam setiap penyelenggaraan kegiatan,” tambahnya.
Penerapan sistem tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi berbagai kegiatan lainnya, baik di tingkat banjar, desa, maupun kota. Pengelolaan sampah sejak dari sumber dinilai mampu mengurangi beban TPA sekaligus membuka peluang terbentuknya ekonomi sirkular melalui pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna.
Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kota Denpasar, komunitas, dan masyarakat, D’Youth Fest 6.0 menunjukkan bahwa penyelenggaraan event besar dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.
Denpasar terus mendorong budaya pengelolaan sampah berbasis sumber sebagai bagian dari upaya mewujudkan kota yang bersih, hijau, dan berkelanjutan melalui aksi nyata bersama.(per/ub)





