Minggu, Juni 16, 2024
BerandaKesehatanGejala Aritmia Bisa Termasuk Pusing, Pingsan, dan Jantung Berdebar

Gejala Aritmia Bisa Termasuk Pusing, Pingsan, dan Jantung Berdebar

UPDATEBALI.com, JAKARTA – Dr. Sunu Budhi Raharjo, Sp.JP (K), PhD, yang menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Aritmia Indonesia (PERITMI), mengungkapkan bahwa gejala aritmia tidak terbatas pada pingsan dan jantung berdebar saja, melainkan juga dapat mencakup gejala pusing.

“Pusing saja bisa menjadi gejala aritmia, bersama dengan pingsan yang sering kami temukan sebagai indikasi aritmia. Gejala yang umum adalah jantung berdebar, dan yang paling serius adalah henti jantung,” kata Sunu di Jakarta, pada hari Selasa 29 Agustus 2023.

Aritmia merupakan kelainan irama jantung, yang bisa berupa denyut jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Jika tidak segera ditangani, kelainan ini dapat berakibat fatal, termasuk risiko stroke dan gagal jantung.

Sunu menjelaskan bahwa aritmia adalah penyebab paling umum dari kondisi henti jantung, menyumbang sekitar 88 persen dari kasus, seperti yang dialami oleh pesepakbola Denmark, Christian Eriksen, saat bertanding melawan Finlandia pada bulan Juni 2021.

Baca Juga:  Burukkah Menahan Bersin?

Dalam menghadapi situasi ini, Sunu menekankan pentingnya pengetahuan mengenai bantuan hidup dasar sebagai langkah utama dalam merespon pasien. Bantuan ini mencakup serangkaian tindakan awal untuk mengembalikan fungsi pernafasan atau sirkulasi tubuh.

“Kondisi henti jantung seringkali tidak dapat diprediksi, sehingga memiliki terapi yang dapat memberikan bantuan bagi kelangsungan hidup seseorang menjadi sangat penting,” tambah Sunu.

Data Terbaru: Prevalensi Aritmia dan Tren Masa Depan

Dalam kesempatan yang sama, Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP (K),FIHA, FAsCC, Dewan Penasehat PERITMI, mengungkapkan data terbaru mengenai prevalensi aritmia. Menurutnya, pada tahun 2023, prevalensi aritmia secara umum berkisar antara 1,5 hingga 5 persen dari populasi global.

Baca Juga:  Universitas Udayana Gelar Seminar Nasional KOMPAK 2023

Lebih lanjut, aritmia yang paling umum terjadi adalah fibrilasi atrium (FA), dengan jumlah kasus global mencapai 46,3 juta. Diperkirakan bahwa pada tahun 2050, jumlah kasus FA akan terus meningkat dan mencapai 72 juta kasus di Asia, dengan perkiraan sekitar 3 juta kasus di Indonesia.

Gejala dan Faktor Risiko

Dicky menjelaskan bahwa gejala aritmia meliputi detak jantung yang lebih cepat dari normal (takikardia), detak jantung yang lebih lambat dari normal (bradikardia), pusing, pingsan, kelelahan yang cepat, sesak napas, dan nyeri dada. Aritmia dapat terjadi pada siapa saja, seringkali muncul tanpa pola tertentu, tetapi dalam beberapa kasus, ada faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang terkena aritmia, termasuk usia, riwayat penyakit jantung koroner, penggunaan narkoba atau zat tertentu, konsumsi alkohol berlebihan, penggunaan obat-obatan tertentu, merokok, dan konsumsi kafein berlebihan.

Baca Juga:  Kristal di Urine belum Tentu Pertanda Batu Ginjal, Cek Penjelasannya

Pilihan Penanganan Aritmia

Dicky menjelaskan bahwa penanganan aritmia melibatkan beberapa tindakan, termasuk tindakan kateter ablasi. Tindakan ini bertujuan untuk menormalkan detak jantung yang tidak teratur atau terlalu cepat dengan menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah hingga ke jantung. Tindakan ini memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan sering menjadi pilihan utama.

Selain itu, pemasangan alat Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) juga merupakan pilihan penanganan. Alat ini dapat mencegah kematian mendadak akibat henti jantung. Fungsinya adalah mengembalikan irama jantung dengan memberikan kejutan listrik saat terdeteksi adanya kelainan irama.

ICD adalah alat kecil yang ditanam di dada dan mampu berfungsi selama delapan tahun, tergantung pada frekuensi penggunaannya. (ub/ant)

BERITA TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments