spot_img
spot_img
BerandaBaliESB Sambangi Bali, Bekali Pengusaha Kuliner Strategi Tingkatkan Omzet dan Efisiensi

ESB Sambangi Bali, Bekali Pengusaha Kuliner Strategi Tingkatkan Omzet dan Efisiensi

UPDATEBALI.com, DENPASAR – PT Esensi Solusi Buana (ESB) menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Bali sebagai bagian dari roadshow nasional bertajuk “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat”.

Setelah sebelumnya sukses di Bandung dengan menarik lebih dari 1.000 pelaku usaha kuliner, Bali menjadi kota kedua yang dipilih karena dinilai memiliki potensi besar sekaligus tantangan tersendiri bagi industri makanan dan minuman.

Sebagai destinasi wisata internasional, Bali mempertemukan pelaku usaha lokal dengan merek-merek global di tengah perubahan perilaku konsumen dan tekanan terhadap daya beli. Melalui kegiatan ini, ESB ingin membantu pelaku usaha kuliner meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga profitabilitas melalui pemanfaatan teknologi berbasis data.

Co-Founder & CEO ESB Gunawan mengatakan, perubahan pola konsumsi masyarakat saat ini justru membuka peluang bagi bisnis kuliner yang mampu beradaptasi dengan cepat.

“Kondisi pasar menunjukkan masyarakat dan wisatawan di Bali tetap aktif berkuliner di luar, namun kini mereka jauh lebih selektif dalam menilai kesesuaian harga dan kualitas (value) yang didapatkan. Di saat yang sama, fluktuasi harga bahan baku global menjadi tantangan tersendiri yang menggerus margin keuntungan secara tidak kasat mata. Dalam kondisi ini, pengelolaan operasional secara manual tentu memiliki keterbatasan dalam merespons pasar yang bergerak cepat. Oleh karena itu, digitalisasi operasional berbasis data real-time bukan lagi sekadar nilai tambah untuk bertumbuh, melainkan sebuah fondasi penting guna menjaga ketahanan bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha di tengah kompetisi yang dinamis,” ujarnya.

Baca Juga:  Libatkan 1.900 Pesepeda dari 30 Negara, Wagub Cok Ace Lepas Peserta Road Bike GFNY

Kegiatan tersebut digelar di tengah kondisi industri F&B yang menghadapi tantangan ekonomi. Meski ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026, jumlah masyarakat kelas menengah terus menurun. Fenomena ini memicu perubahan pola konsumsi yang dikenal sebagai Lipstick Effect, yaitu kecenderungan masyarakat mengurangi pengeluaran besar namun tetap menyisihkan anggaran untuk kebutuhan hiburan sederhana, termasuk menikmati kopi dan kuliner.

Tren tersebut tercermin dari proyeksi konsumsi kopi domestik Indonesia pada periode 2026/2027 yang diperkirakan terus meningkat menjadi sekitar 4,83 juta kantong atau setara sekitar 290 ribu ton. Kondisi ini menunjukkan permintaan pasar tetap tinggi meski pelaku usaha menghadapi kenaikan harga bahan baku.

Di Bali, sektor pariwisata juga dinilai masih menjadi penopang utama industri kuliner. Pemerintah Provinsi Bali mencatat penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) hingga Mei 2026 mencapai sekitar Rp2,89 triliun atau meningkat sekitar Rp300 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas sektor hospitality masih tumbuh positif.

Untuk membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi, ESB memperkenalkan tiga solusi digital yang saling terintegrasi, yakni ESB POS untuk pengelolaan transaksi kasir, ESB Order sebagai sistem pemesanan mandiri berbasis QR Code, serta ESB Core (ERP) yang memantau stok dan inventaris secara real-time guna mengurangi pemborosan bahan baku.

Pemilik Kopi Jenar, Mas Munir, mengaku digitalisasi operasional membantunya mengatasi persoalan pencatatan stok yang selama ini menjadi tantangan.

Baca Juga:  Rayakan Hari Tumpek Kandang, Bali Safari Park Ajak Satwa Sembahyang Bersama

“Ramainya traffic kunjungan ‘turis dolar’ ke Bali tidak otomatis menghasilkan keuntungan jika operasional kita bocor. Sebelum menggunakan ESB, stres terbesar saya adalah mengelola stok bahan baku yang tidak akurat. Di catatan teoritis stok biji kopi atau sirup masih ada, tapi di lapangan sudah habis. Melalui integrasi ESB POS dan ESB Core (ERP), setiap cangkir kopi yang keluar kini otomatis memotong gramasi stok di gudang secara presisi. Angka waste kelihatan jelas, kebocoran dikunci, dan saya bisa pulang ke rumah dengan tenang karena laporan penjualan dipantau langsung dari handphone,” ungkap Munir.

Hal senada disampaikan Founder 2080 Burger, Heru Dwi Soesilo. Menurutnya, sistem pemesanan digital membantu mempercepat pelayanan, terutama saat musim liburan ketika kunjungan wisatawan meningkat.

“Di Bali, saat musim liburan atau jam sibuk (peak hours), antrian panjang di kasir sering membuat pelanggan malas dan pindah ke tempat lain. Dengan adanya teknologi ESB Order, konsumen datang bisa langsung duduk di meja, scan QR, memesan, dan langsung membayar lewat e-wallet. Proses ini memotong waktu antrian hingga separuhnya dan mempercepat perputaran meja (table turnover) sehingga omset harian naik tanpa perlu menambah mesin kasir. Sistem ini sama sekali tidak mengurangi kehangatan hospitality Bali; justru karena tugas repetitif kasir diambil alih teknologi, staf kami memiliki waktu lebih banyak untuk menyapa dan berinteraksi akrab dengan pengunjung,” jelasnya.

Baca Juga:  Gema UMKM Buleleng 2023 Resmi Dibuka, Sekda Suyasa Targetkan UMKM Naik Kelas

Kopdar Racik Bisnis F&B merupakan program edukasi yang dirancang sebagai forum diskusi, mentoring, dan berbagi pengalaman bagi para pemilik usaha kuliner. Bali menjadi kota kedua dari rangkaian roadshow di 10 kota sepanjang 2026, yang akan berlanjut ke sejumlah daerah lain, mulai dari Medan hingga Makassar.

Dalam penyelenggaraannya, ESB juga menggandeng berbagai komunitas bisnis seperti PKID, TDA, dan asosiasi kuliner daerah, serta didukung sejumlah mitra strategis, di antaranya BCA sebagai mitra pembayaran, GoApp untuk solusi customer relationship management (CRM) berbasis kecerdasan buatan, serta IWARE sebagai penyedia perangkat keras pendukung operasional.

Menutup kegiatan tersebut, Gunawan menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting bagi keberlanjutan usaha kuliner di tengah persaingan yang semakin ketat.

“Keberlanjutan industri F&B di Bali kini tidak hanya bertumpu pada produktivitas di dapur, melainkan juga pada seberapa optimal kita mengelola dan memanfaatkan data operasional bisnis. Momen ini merupakan kesempatan berharga bagi pelaku usaha kuliner di Bali untuk menyelaraskan kembali sistem internal mereka. Kita ingin menunjukkan bahwa keunikan serta autentisitas rasa lokal, jika dipadukan dengan tata kelola teknologi berstandar internasional, akan mampu tampil unggul dan berdaya saing tinggi. Bersama ESB, mari kita bersinergi mengubah setiap tantangan menjadi peluang, menjaga stabilitas margin usaha, dan menjadi tuan rumah yang sukses di pasar sendiri,” tutupnya.(*/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments