spot_img
spot_img
BerandaKesehatanEco-Anxiety Meningkat, Remaja dan Pemuda Dunia Khawatir Masa Depan Bumi

Eco-Anxiety Meningkat, Remaja dan Pemuda Dunia Khawatir Masa Depan Bumi

UPDATEBALI.comJAKARTA – Kaum muda menghadapi tekanan emosional yang semakin tinggi akibat krisis iklim, yang diperparah oleh paparan informasi melalui media sosial.Kaum muda menghadapi tekanan emosional yang semakin tinggi akibat krisis iklim, yang diperparah oleh paparan informasi melalui media sosial. Fenomena ini dikenal sebagai eco-anxiety, atau kecemasan lingkungan, yang kini menjadi isu global bagi generasi muda.

Survei internasional terhadap remaja dan pemuda usia 16–25 tahun di 10 negara, termasuk Brasil, India, Nigeria, Filipina, dan Australia, menunjukkan tingkat kekhawatiran yang tinggi terhadap perubahan iklim. Banyak dari mereka merasa sedih, tidak berdaya, dan dikhianati oleh pemerintah karena dianggap tidak cukup mengambil tindakan untuk melindungi lingkungan. Di negara-negara Selatan, dampak negatif ini bahkan lebih terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Mahasiswa ISI Denpasar Raih Juara Pertama dalam Lomba Karya Kreatif Muda Bank Indonesia

Media sosial menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, platform digital membantu kaum muda mengekspresikan diri, membangun jejaring sosial, dan mendorong aktivisme iklim. Namun di sisi lain, arus informasi negatif dan tautan yang menyesatkan dapat meningkatkan rasa takut, putus asa, dan kecemasan berlebih. Algoritme media sosial, seperti yang digunakan Facebook dan X (sebelumnya Twitter), kerap memperkuat bias dan menciptakan echo chamber, sehingga memperdalam dampak psikologis terhadap pengguna muda.

Baca Juga:  Jenazah Korban Gempa Turki Asal Klungkung Tiba di Bali Sore Ini

Studi menunjukkan bahwa eco-anxiety berkontribusi pada masalah kesehatan mental yang lebih luas, termasuk depresi, kecemasan, stres, dan gangguan fungsional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat satu dari tujuh anak usia 10–19 tahun mengalami masalah kesehatan mental, sementara bunuh diri menempati posisi keempat sebagai penyebab kematian anak muda usia 15–29 tahun. Di Indonesia, Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional menemukan sekitar satu dari tiga remaja berusia 10–17 tahun menunjukkan gejala gangguan jiwa.

Pakar menekankan pentingnya dukungan kesehatan mental yang tepat dan pendidikan literasi media untuk mengurangi dampak negatif media sosial. Sekolah, komunitas anak muda, dan platform digital bisa memfasilitasi partisipasi positif dalam aksi iklim, sambil menyeimbangkan paparan informasi agar tidak menimbulkan kecemasan berlebihan.

Baca Juga:  Sekda Badung Tutup Beach Front Festival Pantai Jerman Tahun 2024

Gabriela Fernando, asisten profesor di Monash University, menekankan bahwa memasukkan suara dan pengalaman anak muda dalam kebijakan iklim dapat membantu merancang program yang efektif serta meningkatkan kesejahteraan mental mereka. Studi juga menunjukkan bahwa pemberitaan positif tentang aksi iklim dapat memperkuat motivasi dan kesehatan sosial anak muda.

Untuk bantuan lebih lanjut terkait kesehatan mental, masyarakat dapat mengunjungi https://findahelpline.com/i/iasp.

Artikel ini pertama kali diterbitkan pada tanggal 9 Oktober 2023 diterbitkan di bawah Creative Commons oleh 360info™.(*/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments