spot_img
spot_img
BerandaFinansialBI: Normalisasi Negara Maju Berisiko Pemulihan Bagi Negara Berkembang

BI: Normalisasi Negara Maju Berisiko Pemulihan Bagi Negara Berkembang

UPDATEBALI.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan proses normalisasi kebijakan yang akan dilakukan oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa akan menjadi risiko pemulihan bagi negara berkembang.

“(Risiko) yang paling utama dari makro ekonomi dan kebijakan moneter adalah proses normalisasi,� katanya dalam Agenda Presidensi G20 Indonesia di Jakarta, Sabtu (19/2).

Baca Juga:  Pemkab Badung Gandeng PT PP Kerja Sama Atasi Masalah Sampah

Perry menuturkan beberapa negara maju telah pulih dan akan segera mulai menormalkan kebijakan mereka, namun masih banyak negara berkembang termasuk Indonesia yang baru mulai memupuk pemulihan ekonomi.

Hal itu menyebabkan terjadinya pemulihan ekonomi global dan kebijakan moneter yang tidak sinkron sehingga akan menimbulkan banyak masalah baru terutama bagi negara berkembang.

Baca Juga:  Pencarian Korban Terseret Gelombang di Pantai Batu Tampih Berlanjut

Padahal, risiko selain normalisasi kebijakan juga masih membayangi pemulihan seperti adanya COVID-19 varian Omicron, disrupsi rantai pasokan hingga terkait energi.

Oleh sebab itu, Perry menegaskan proses normalisasi kebijakan perlu disatukan dan dikoordinasikan agar pemulihan terjadi secara seimbang baik antara negara maju maupun negara berkembang.

Ia menyebutkan terdapat tiga aktor yang harus saling bersinergi dalam menormalisasi kebijakan yakni negara maju, negara berkembang serta organisasi internasional khususnya IMF.

Baca Juga:  Curah Hujan Tinggi, Wilayah Wanayasa Purwakarta Terjadi Longsor

“Ini lah kita pentingnya menekankan well calibrated, well planned and well communicated,� tegasnya. (ub/ant)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments