spot_img
spot_img
BerandaBaliBadungLewat Grebek Kerukunan, Ketua WHDI Badung Gaungkan Harmoni di Tengah Perbedaan

Lewat Grebek Kerukunan, Ketua WHDI Badung Gaungkan Harmoni di Tengah Perbedaan

UPDATEBALI.com, BADUNG – Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Badung, Nyonya Yunita Alit Sucipta, menjadi narasumber dalam kegiatan Grebek Kerukunan bertajuk “Menanam Toleransi, Menuai Harmoni: Pelajar Bergerak untuk Kerukunan” yang diselenggarakan oleh Forum Generasi Muda Lintas Agama (Forgimala) Badung di SMAN 1 Abiansemal, Senin, 28 Juli 2025.

Kehadiran istri Wakil Bupati Badung tersebut disambut hangat oleh Kepala SMAN 1 Abiansemal, I Ketut Hariwirawan, Ketua Komite Sekolah Ni Luh Kadek Suastiari, serta jajaran Forgimala Badung.

Dalam sesi penyampaian materi kepada siswa baru, Yunita Alit Sucipta mengangkat kearifan lokal Bali sebagai landasan hidup dalam toleransi dan kerukunan, melalui slogan sagilik, saguluk, salunglung, sabayantaka serta konsep asah, asih, asuh.

Baca Juga:  Gubernur Bali Bahas Kolaborasi Digital dengan Telkom, Fokus pada Konektivitas dan Turyapada Tower

“Asah artinya saling belajar dan membuka pikiran, Asih adalah olas asih atau kasih sayang yang menerima perbedaan, dan Asuh berarti membina serta menjaga satu sama lain,” jelas Yunita.

Ia menegaskan bahwa generasi muda harus menjadi agen toleransi dan kerukunan, mengingat Indonesia yang majemuk dengan berbagai suku, agama, dan budaya.

“Toleransi bukan menyamakan, tetapi menyatukan dalam perbedaan. Kita harus tetap memegang semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” tambahnya.

Baca Juga:  Jembrana Siap Sambut Nyepi dan Idul Fitri 2026, Bupati Kembang Perkuat Sinergi Lintas Agama

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris I TP PKK Badung itu juga menyoroti peran perempuan, khususnya ibu, sebagai penanam nilai toleransi sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah.

“Seorang ibu yang toleran dan terbuka akan membentuk anak-anak yang moderat, open-minded, dan memiliki jiwa toleransi tinggi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Yunita juga mengingatkan siswa sebagai bagian dari generasi Z untuk bijak menggunakan media sosial. Ia mendorong siswa agar menjadi penyebar pesan positif dan kasih sayang di ruang digital.

Baca Juga:  Polda Bali Kerahkan Ribuan Personel demi Amankan Natal dan Tahun Baru 2022

“Komentar negatif di media sosial bisa memicu perpecahan. Jempolmu adalah harimaumu. Mari kita belajar berkomentar yang membangun dan menyejukkan,” pesannya.

Mengakhiri sesi tersebut, Yunita mengajak seluruh siswa dan guru untuk bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan (bullying).

“Membully bisa menyakiti perasaan dan mental seseorang. Mari kita saling merangkul, menjaga ucapan, dan selalu menumbuhkan rasa olas asih di lingkungan sekolah,” tutup Ketua Gabungan Organisasi Wanita Badung itu.(den/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments