Pedagang Mengeluh, Harga Cabai Naik Drastis di Jembrana

0
163
Pedagang pasar umum Negara, Ni Wayan Muliada (52) mengeluhkan harga cabai naik drastis di Jembrana. Rabu 8 November 2023. Sumber foto : Dik/ub

UPDATEBALI.com, JEMBRANA – Sejumlah pedagang mengeluh harga cabai rawit sejak seminggu terakhir naik drastis, bahkan sudah sampai menyentuh harga Rp. 80 ribu perkilogramnya. Padahal awal bulan November lalu, harga cabai masih berkisar sekitar Rp 60 ribu per kilogram. Naiknya harga cabai ini, karena stok yang sedikit sedangkan permintaan masih tinggi.

Kenaikan harga cabai tersebut dikeluhkan sejumkah pedagang Pasar Umum Negara (PUN) salah satunya Ni Wayan Muliada (52) di pasar relokasi.

“Karena harga mahal, pembeli hanya bisa membeli sedikit. Saat harga murah beli banyak,” ucapnya, Rabu 8 November 2023.

Baca Juga:  Wawali Denpasar Dukung Peran IKAYANA dalam Pembangunan Berkelanjutan

Muliada juga menuturkan, cabai yang dijual berasal dari wilayah Jawa, karena cabai dari Bali belum ada, karena tanaman cabai kering akibat kemarau. Harga beli cabai kecil saat ini hingga Rp. 75 ribu per kilo, pedagang menjual Rp 75 ribu, bahkan di pedagang eceran hingga tembus Rp. 80 ribu. Sebelumnya, harga beli Rp 58 ribu, harga jual Rp 60 ribu.

“Sudah seminggu ini naik cabai kecil,” akunya.

Baca Juga:  Wagub Bali Cok Ace Jabarkan Langkah Strategis Pemprov Bali Menghadapi Perekonomian Global

Selain cabai yang naik, bawang merah juga naik dari harga Rp 13 ribu perkilogram, saat ini sudah naik Rp 20 ribu. Begitu juga dengan harga tomat awalnya Rp 3000, saat ini sudah naik Rp 5000.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Koperindag) Jembrana I Komang Agus Adinata mengatakan, naiknya harga cabai ini dipengaruhi kemarau berkepanjangan, menyebabkan petani gagal panen, dan kesulitan menanam kembali karena dampak kekeringan, sehingga produksi juga berkurang.

Baca Juga:  Gandeng DPR RI, OJK Berikan Edukasi kepada Warga Desa Bengkala Buleleng

“Cabai yang dijual berasal dari wilayah Jawa, karena cabai dari Bali tidak ada, karena tanaman cabai kering dampak kekurangan air. Naiknya harga ini karena pengaruh cuaca kemarau,” katanya.

Ia berharap, cuaca segera membaik sehingga petani bisa kembali menanam cabai, sehingga pasokan cabai di pasar bisa kembali normal dan harga bisa turun.

“Biasanya sudah mulai turun hujan ini. Semoga bulan November ini hujan turun, dan petani cabai bisa menanam cabai kembali,” pungkasnya. (dik/ub)