UPDATEBALI.com, BULELENG – Terhitung hampir 65 persen warga di Banjar Dinas Yangudi, Desa les, Kecamatan Tejakula, memilih menjadi Petani kakao. Namun beberapa tahun terakhir justru pohon kakao milik para petani diserang hama dan virus hingga buahnya membusuk.
Salah satu petani kakao bernama Nyoman Wirya Dama (49) misalnya, Ia sudah mulai menanam kakao sejak tahun 1997 di lahan seluas kurang lebih 70 are. Jika biasanya pohon sudah mulai berbuah pada Juni atau Juli, kini buahnya ada yang sampai membusuk setelah berusia sebulan lebih akibat adanya hama atau virus yang menyerang. Apalagi paling parah itu terjadi pada musim hujan, dimana hampir 75 persen buah kakao membusuk serta isi didalamnya hitam dan keras.
“Kalau biasanya waktu normal belum ada virus atau hama itu buah yang dihasilkan dari satu pohon kakao bisa 15 buah tapi kalau pas penyakit (hama) menyerang satu pohon hanya 4 sampai 5 yang tetap bisa dipanen,” tuturnya.
Disamping itu, kini Wirya hanya bisa pasrah menanti solusi terbaik terkait hama atau virus itu agar bisa cepat hilang. Mengingat dirinya bersama sejumlah petani dilokasi itu minim akan pengetahuan soal perawatan pohon kakao.
“Kami disini (Yangudi) sangat memerlukan penyuluhan agar tahu apa solusi serta tindakan yang harus diambil, karena lama kelamaan hama itu tidak hanya menyerang buahnya saja namun juga menyerang pohonnya,” imbuhnya.
Disisi lain, Kepala Dinas Pertanian (Distan), Ir I Made Sumiarta mengaku telah berusaha mengadakan sosialisasi dan pembinaan terkait tanaman-tanaman yang ada di masing-masing Kecamatan salah satunya seperti kakao atau coklat di Tejakula, Kubutambahan.
Meski begitu, Sumiarta tidak menampik apa yang pihaknya lakukan hasilnya belum bisa maksimal seperti proses budidaya serta pengembangan kakao. Mengingat kasus hama atau virus sekarang masih menyerang sebagian besar buah dan pohon kakao milik para petani.
“Walaupun kita belum bisa optimal kita terus berusaha mengoptimalkan soal itu. Kalau ada masukan daripada petani terkait dengan hama penyakit tanaman coklat maka kita akan adakan kegiatan sekolah lapang (SL) sehingga para petani bisa mengelola kebunnya dengan baik dan hasilnya bisa maksimal,” papar Sumiarta.(diana/ub)





