Unud Kembangkan Migrant Health System, Solusi Digital Cegah PMI Putus Layanan Pengobatan TBC

0
33
Universitas Udayana mengembangkan Migrant Health System untuk mempermudah pemantauan, skrining, dan pengobatan tuberkulosis bagi pekerja migran Indonesia agar layanan kesehatan tetap berkelanjutan.
Universitas Udayana mengembangkan Migrant Health System untuk mempermudah pemantauan, skrining, dan pengobatan tuberkulosis bagi pekerja migran Indonesia agar layanan kesehatan tetap berkelanjutan. Sumber foto : Istimewa/updatebali

UPDATEBALI.com, DENPASAR – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana (LPPM Unud) menggelar monitoring dan evaluasi (monev) kemajuan penelitian penerima Hibah Penelitian Unggulan Udayana Tahun 2026 di LPPM Unud, Jimbaran, Badung, Senin, 12 Oktober 2026.

Dalam kegiatan tersebut, tim peneliti memaparkan perkembangan riset bertajuk “Peningkatan Kaskade Tuberkulosis pada Pekerja Migran Indonesia: Skrining, Penilaian Epidemiologis, dan Pengembangan Model Layanan Kesehatan Digital”.

Ketua tim peneliti, Prof. dr. I Made Ady Wirawan, M.P.H., Ph.D., menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan mengembangkan model layanan tuberkulosis (TB) digital yang aman, efektif, dan berpusat pada kebutuhan Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Penelitian ini merespons berbagai tantangan dalam alur layanan TB pada pekerja migran, mulai dari tingginya mobilitas, keterbatasan akses, stigma, hingga risiko putusnya keberlanjutan layanan atau continuity of care,” ujar Prof. Ady Wirawan.

Ia menjelaskan, penelitian tersebut dilaksanakan melalui empat paket kegiatan yang saling terintegrasi. Pertama, evaluasi sistem dan kinerja skrining diagnostik untuk menilai kepatuhan terhadap Standar Prosedur Operasional (SPO) serta efektivitas alur skrining TB bagi PMI, baik sebelum keberangkatan maupun setelah kepulangan.

Baca Juga:  Denpasar Mulai Tahap Awal PSEL, Wali Kota Jaya Negara Tegaskan Komitmen Atasi Sampah Berbasis Teknologi

Kedua, studi epidemiologi dan determinan risiko untuk mengidentifikasi beban infeksi, prevalensi TB aktif, serta faktor risiko utama yang dihadapi pekerja migran.

Ketiga, studi perilaku dan pemantauan terapi yang mengkaji pengetahuan, persepsi risiko, serta hambatan stigma terkait Tuberculosis Preventive Treatment (TPT) atau pengobatan pencegahan TB.

Keempat, pengembangan dan validasi prototipe digital melalui platform Migrant Health System. Platform ini dirancang untuk menghubungkan proses skrining, rujukan, pengobatan pencegahan TB, edukasi, hingga pemantauan digital secara menyeluruh.

Berdasarkan temuan sementara, pelaksanaan skrining dasar pada PMI secara umum telah berjalan relatif baik. Meski demikian, kepatuhan terhadap alur layanan secara menyeluruh masih perlu diperkuat, terutama dalam konsistensi anamnesis dan penelusuran rujukan tindak lanjut.

Survei mengenai pengetahuan dan persepsi PMI terhadap pengobatan pencegahan TB juga menunjukkan tingkat penerimaan program yang baik. Namun, pemahaman dan efikasi diri pekerja migran masih perlu ditingkatkan melalui media edukasi yang interaktif.

“Melalui pengembangan prototipe Migrant Health System, kami berharap pasien PMI dapat tetap terpantau dengan baik meskipun harus berpindah fasilitas kesehatan, wilayah, hingga lintas negara. Sistem ini dirancang untuk mendukung kesinambungan layanan tanpa membebani fasilitas kesehatan yang ada,” kata Prof. Ady.

Baca Juga:  Sesuai Audit, SPI Unud Tak Ada Korupsi Maupun Kerugian Negara

Tim peneliti Unud juga terus mematangkan pengembangan platform digital tersebut sebagai upaya mendukung percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) nasional, khususnya bagi kelompok rentan seperti PMI. Salah satu fokus pengembangannya adalah integrasi dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

Di hadapan tim reviewer yang dipimpin Prof. Dr. Dewa Ngurah Suprapto, MSc., dan Prof. Dr. Dra. Wiwik Susana Rita, M.Si., Prof. Ady menegaskan bahwa pengembangan sistem digital ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan sinergi data kesehatan di lapangan.

“Arah pengembangannya adalah integrasi dengan sistem yang saat ini sudah ada, yaitu Sistem Informasi Tuberkulosis atau SITB. Ada beberapa opsi integrasi yang kami kaji, baik melalui opsi integrasi penuh maupun mekanisme bridging sesuai dengan arah pemikiran dan kebutuhan teknis,” ujarnya.

Menurut Prof. Ady, tim peneliti bersama para pemangku kepentingan menyepakati tiga prinsip utama dalam pengembangan sistem, yakni efisiensi sumber data, interoperabilitas antarsistem, serta jaminan aksesibilitas dan keberlanjutan layanan. Berdasarkan prinsip tersebut, tim juga telah memetakan nilai tambah dari proses migrasi dan integrasi data.

Baca Juga:  Sekda Adi Arnawa Hadiri Karya Pujawali di Pura Luhur Uluwatu

Selain aspek teknis, penelitian ini mencakup evaluasi penerimaan platform oleh pengguna. Pengujian dilakukan terhadap sejumlah responden untuk mengukur kemudahan penggunaan, tingkat kegunaan (usability), persepsi pengguna, serta niat untuk memanfaatkan sistem secara rutin.

“Dari hasil evaluasi tersebut, kami melakukan serangkaian perbaikan dan penyempurnaan secara berkelanjutan agar platform digital ini menjadi jauh lebih mudah dimanfaatkan, lebih lincah (agile), serta memiliki usability yang unggul sehingga mendorong dorongan kuat dari para penggunanya,” tambahnya.

Pengembangan platform ini juga melibatkan kolaborasi dengan calon pengguna dan pihak terkait melalui pendekatan co-creation. Sejumlah kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari pemeriksaan skrining radiologi TBC bagi calon PMI hingga lokakarya perumusan layanan.

Selanjutnya, opsi integrasi teknis akan terus dimatangkan melalui kajian mendalam bersama pengelola SITB di tingkat pusat dan pengelola program TBC daerah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan penerapan model layanan kesehatan digital tersebut dapat berjalan optimal bagi Pekerja Migran Indonesia.(yud/updatebali)