Putri Koster Ajak Generasi Muda Jaga Aksara Bali di Tengah Perkembangan Teknologi

0
6
Pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali menjadi perhatian Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster. Ia mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya mempelajari, tetapi juga menggunakan dan meneruskan warisan budaya tersebut kepada generasi berikutnya.
Pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali menjadi perhatian Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster. Ia mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya mempelajari, tetapi juga menggunakan dan meneruskan warisan budaya tersebut kepada generasi berikutnya. Sumber foto: Humas Pemprov Bali/Updatebali

UPDATEBALI.comDENPASAR – Pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali menjadi perhatian Ketua TP PKK Provinsi Bali, Putri Suastini Koster. Ia mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya mempelajari, tetapi juga menggunakan dan meneruskan warisan budaya tersebut kepada generasi berikutnya.

Pesan itu disampaikan saat Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra” yang digelar di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Kamis 10 September 2026.

Putri Koster mengatakan, aksara merupakan salah satu penanda penting peradaban suatu kelompok masyarakat. Karena itu, masyarakat Bali patut berbangga karena memiliki aksara sendiri sebagai warisan leluhur yang hingga kini tetap hidup dan digunakan.

“Dari seluruh suku yang ada di Indonesia, kita harus berbangga bahwa Bali memiliki aksaranya sendiri,” ujar Putri Koster.

Menurutnya, keberlangsungan aksara Bali tidak cukup hanya dijaga melalui regulasi pemerintah. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar bahasa, aksara, dan sastra Bali terus digunakan serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga:  Remaja Jadi Target Narkoba, Pemkot Denpasar Perkuat Pertahanan Mental Siswa Lewat Sosialisasi

Ia mengingatkan bahwa warisan budaya dapat perlahan menghilang apabila masyarakat mulai meninggalkan penggunaannya. Karena itu, pelestarian aksara Bali harus dimulai dari kesadaran masyarakat Bali sendiri.

“Ketika kita sudah beralih, tidak mau memakai lagi, itu sudah tanda-tanda kita akan kehilangan warisan leluhur kita. Maka, ayo tumbuhkan kesadaran bahwa kita harus melestarikan sastra dan aksara Bali yang telah diwariskan para leluhur kepada anak cucu kita,” tegasnya.

Putri Koster menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali telah memberikan landasan regulasi dalam upaya pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Baca Juga:  Satpol PP Saat Sidak di Nusa Penida, Temukan Usaha Loundry Buang Limbah Kelaut

Namun, menurutnya, keberadaan regulasi harus diikuti dengan implementasi nyata dalam kehidupan masyarakat. Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan usia sebagai alasan berhenti belajar. Bahasa, aksara, dan sastra Bali merupakan kekayaan budaya bernilai luhur yang harus terus dipelajari, digunakan, dan diwariskan.

Putri Koster juga berharap kegiatan seperti Seminar “Nyastra” tidak berhenti sebatas ruang diskusi. Seminar dan sosialisasi diharapkan mampu melahirkan karya nyata yang memperkuat keberadaan bahasa, aksara, dan sastra Bali, termasuk melalui penerbitan buku serta berbagai karya yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan generasi muda.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra”, Wayan Sila Sayana, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital turut membuka peluang baru bagi pelestarian dan pengembangan aksara Kawi dan Bali. Hingga saat ini, telah dikembangkan 46 jenis font aksara Bali oleh perancang huruf dari Indonesia maupun luar negeri. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman terhadap keberadaan aksara tradisional. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas ruang penggunaan, pengembangan, dan pengenalan aksara Bali kepada masyarakat.

Baca Juga:  Bupati Sanjaya Resmi Tutup Turnamen 'Bupati Tabanan Futsal Cup 2025' di GOR Debes

Seminar “Nyastra” menghadirkan dua narasumber, yakni Peneliti Ahli Madya BRIN Drs. I Gusti Made Suarbhawa yang membawakan materi “Prasasti Sembiran: Menguak Keberaksaraan Kuno di Pesisir Bali Utara” serta I Made Suatjana, kreator Bali Simbar, dengan materi “Perkembangan dan Tantangan Font Aksara Bali Simbar”.

Melalui Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra”, pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali diharapkan semakin tumbuh menjadi gerakan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital juga diharapkan membuka ruang yang semakin luas bagi aksara Bali untuk tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang.(yud/updatebali)