Bukan Sekadar Pameran, Siswa SLBN 1 Buleleng Unjuk Karya dan Belajar Percaya Diri di BDE

0
121
Suasana Buleleng Digital Expo (BDE) di RTH RJ Bupati Buleleng, Sabtu 22 Agustus 2026, tidak hanya dipenuhi berbagai inovasi teknologi.
Suasana Buleleng Digital Expo (BDE) di RTH RJ Bupati Buleleng, Sabtu 22 Agustus 2026, tidak hanya dipenuhi berbagai inovasi teknologi. Sumber foto: Humas Kominfosanti Buleleng/Updatebali

UPDATEBALI.com, BULELENG – Suasana Buleleng Digital Expo (BDE) di RTH RJ Bupati Buleleng, Sabtu 22 Agustus 2026, tidak hanya dipenuhi berbagai inovasi teknologi.

Ruang pameran dalam rangkaian Buleleng Festival tersebut juga menjadi panggung bagi siswa SLB Negeri 1 Buleleng untuk memperkenalkan keterampilan sekaligus membangun keberanian berinteraksi dengan masyarakat.

Kehadiran SLBN 1 Buleleng menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Buleleng menghadirkan ruang publik yang dapat diakses dan dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Di stan yang mereka tempati, para siswa memamerkan sejumlah hasil keterampilan. Produk sablon dan berbagai kerajinan dari kegiatan menjahit menjadi karya yang diperkenalkan kepada pengunjung.

Bagi sekolah, keikutsertaan dalam BDE bukan semata-mata untuk memamerkan produk. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari sekaligus berhadapan langsung dengan masyarakat.

Guru SLB Negeri 1 Buleleng, Wayan Susiani, menjelaskan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus diberikan secara lebih luas. Selain materi akademik, sekolah memberi perhatian besar terhadap keterampilan yang dapat menunjang kemandirian siswa ketika berada di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Buka Diklat SDM Usaha Mikro, Bupati Suwirta : Pengusaha harus Memiliki Power dan Follower

“Di SLB yang kami utamakan adalah kemandirian anak. Banyak life skill yang kami ajarkan, seperti sablon dan menjahit. Yang menjadi unggulan kami sekarang adalah sablon,” ujar Wayan Susiani.

Sablon menjadi salah satu keterampilan yang terus dikembangkan SLBN 1 Buleleng. Sekolah tidak hanya menyediakan peralatan untuk praktik, tetapi juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman secara langsung.

Pengembangan keterampilan tersebut bahkan telah mendapat kepercayaan lebih luas. SLBN 1 Buleleng turut menjadi tempat bagi guru dari SLB lainnya untuk mempelajari teknik sablon.

“Anak-anak dilatih untuk sablon dan kami juga sudah memiliki alatnya. Bahkan guru-guru dari SLB lain juga berlatih di sekolah kami, sehingga kami menjadi semacam center,” jelasnya.

Ada hal lain yang menarik perhatian pengunjung di stan SLBN 1 Buleleng. Masyarakat tidak hanya dapat melihat produk karya siswa, tetapi juga diajak mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Baca Juga:  5 Aktivitas yang Lebih Nyaman Dilakukan di Layar Besar Galaxy Z Fold8

Melalui aplikasi yang tersedia di stan, pengunjung dapat mengikuti tantangan bahasa isyarat. Aktivitas tersebut menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan komunikasi dengan teman-teman tunarungu kepada masyarakat luas.

“Tujuan kami supaya anak-anak bisa berbaur dengan masyarakat umum. Mereka bisa berkomunikasi, meskipun melalui bahasa isyarat, ekspresi maupun membaca gerak bibir,” ungkapnya.

Bagi para siswa, pengalaman bertemu dan berkomunikasi dengan pengunjung menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Kesempatan berada di ruang publik membantu mereka melatih keberanian sekaligus membangun rasa percaya diri.

“Awalnya ada yang malu, tetapi lama-lama mereka enjoy. Karena setiap hari kami sudah melatih bagaimana mereka berinteraksi,” katanya.

Selama pelaksanaan BDE, siswa dan guru SLBN 1 Buleleng secara bergantian bertugas di stan. Peserta didik yang terlibat merupakan siswa dengan hambatan pendengaran yang telah memperoleh pembelajaran bahasa isyarat dan komunikasi.

Wayan Susiani berharap keterlibatan siswa dalam kegiatan publik dapat terus diperluas. Menurutnya, kesempatan untuk menunjukkan kemampuan menjadi penting agar masyarakat dapat melihat potensi yang dimiliki anak berkebutuhan khusus secara lebih utuh.

Baca Juga:  Peringati Bulan Bung Karno VIII, Bupati Satria Pimpin Aksi Bersih Pantai di Kusamba

Ia juga berharap dunia kerja dapat memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas yang telah memiliki keterampilan dan kesiapan untuk bekerja.

“Jangan underestimate anak-anak berkebutuhan khusus. Di balik kekurangan mereka, banyak sekali kelebihan yang mereka miliki. Kalau kita mau melatih dan memberikan ruang, mereka bisa menunjukkan kemampuan,” tegasnya.

Keikutsertaan SLBN 1 Buleleng di Buleleng Digital Expo memperlihatkan bahwa ruang digital dan ruang publik dapat dimanfaatkan lebih luas untuk membangun interaksi sosial. Teknologi dalam konteks ini tidak hanya menjadi sarana inovasi, tetapi juga dapat membantu membuka akses komunikasi dan kesempatan bagi kelompok berkebutuhan khusus.

BDE pun menjadi salah satu ruang yang mempertemukan siswa, guru dan masyarakat dalam suasana yang inklusif. Melalui kesempatan tersebut, anak berkebutuhan khusus dapat tampil sebagai individu yang berkarya, memiliki keterampilan dan mampu berkontribusi di tengah masyarakat.(adv/updatebali)