
UPDATEBALI.com, BULELENG – Pemerintah Kabupaten Buleleng memperkuat dukungan terhadap upaya pelestarian penyu di kawasan pesisir.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra turut melepas 100 ekor tukik di Pantai Camplung, Kelurahan Banyuasri, Minggu, 16 Agustus 2026.
Pelepasan tukik tersebut digagas komunitas pecinta lingkungan Kurma Segara Raksa sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan habitat penyu di pesisir Buleleng. Pantai Banyuasri diketahui menjadi salah satu kawasan yang secara rutin didatangi penyu untuk bertelur, terutama pada periode Mei hingga Agustus.
Bupati Sutjidra menilai keberhasilan konservasi penyu tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Keterlibatan masyarakat pesisir dan desa adat dinilai penting untuk memastikan telur-telur penyu yang berada di kawasan pantai tetap terlindungi hingga menetas.
Ia menyebut telur penyu yang tidak mendapat pengawasan berisiko dimangsa sejumlah predator, di antaranya anjing dan biawak.
“Nah, ini yang kita akan komunikasikan dengan antar desa adat agar mereka betul-betul ikut menjaga pelestarian dan kemurnian dari penyu-penyu ini. Inisiatif dari masyarakat ini sangat kami dukung,” ujarnya.
Menurut Sutjidra, Pemkab Buleleng siap membangun kolaborasi dengan komunitas dan masyarakat melalui sejumlah perangkat daerah terkait. Dinas yang membidangi lingkungan hidup, pertanian dan ketahanan pangan, serta perikanan akan dilibatkan dalam mendukung upaya pelestarian tersebut.
Selain aspek konservasi, penataan kawasan pesisir Pantai Camplung juga diarahkan agar dapat mendukung rencana pengembangan potensi wisata bahari. Dengan demikian, upaya menjaga habitat penyu dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi dan pariwisata berbasis lingkungan.
Ketua Komunitas Kurma Segara Raksa Nyoman Sadwika mengatakan, pelepasan perdana dilakukan terhadap 100 tukik. Sementara itu, 60 tukik lainnya yang baru menetas sekitar satu pekan lalu masih dirawat sementara hingga kondisi fisiknya dinilai cukup kuat untuk dilepasliarkan.
“Kami berharap langkah kecil yang kami lakukan sekarang bisa berdampak kepada langkah-langkah besar selanjutnya. Kami juga merencanakan grand desain kawasan Pantai Camplung sebagai wisata bahari yang memadukan pelestarian penyu, kuliner, water sport, dan wisata spiritual,” ungkapnya.
Rencana pengembangan tersebut diharapkan dapat menjadikan Pantai Camplung sebagai kawasan yang tidak hanya memiliki daya tarik wisata, tetapi juga mengedepankan prinsip pelestarian lingkungan.
Ke depan, komunitas juga berencana melibatkan sekolah-sekolah di wilayah Banyuasri dalam kegiatan pelepasan tukik. Keterlibatan pelajar diharapkan menjadi bagian dari edukasi lingkungan sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap keberadaan dan kelestarian satwa laut.
“Semoga apa yang kita cita-citakan bersama sebagai sesama pecinta binatang dan pecinta pelestarian lingkungan bisa terwujud,” pungkas Sadwika.(adv/updatebali)


