UPDATEBALI.com, MANGUPURA – Akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi salah satu faktor yang mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meningkatkan kapasitas produksi.
Hal itu dirasakan I Nyoman Miasa, pelaku usaha pembibitan lele asal Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kabupaten Badung, yang berhasil mengembangkan usahanya hingga mampu memproduksi ratusan ribu bibit lele dalam setiap siklus.
Usaha yang dirintis sejak 2017 itu bermula dari modal pribadi sekitar Rp17 juta. Dengan modal tersebut, Miasa membangun kolam terpal dan membudidayakan lele jenis Sangkuriang. Ia memilih fokus pada pembibitan karena masa produksinya lebih singkat dibanding usaha pembesaran, sementara permintaan bibit dari para pembudidaya terus menunjukkan tren positif.
Awalnya, pemasaran hanya menjangkau wilayah sekitar tempat usaha. Seiring meningkatnya kualitas produksi dan bertambahnya pelanggan, distribusi bibit kini telah meluas ke sejumlah kabupaten di Bali, seperti Gianyar, Klungkung, Tabanan, hingga Buleleng.
Saat ini, kapasitas produksinya mencapai sekitar 360 ribu ekor bibit lele setiap siklus. Bibit dipasarkan saat berukuran 4 hingga 9 sentimeter kepada para pembudidaya yang kemudian membesarkannya hingga siap konsumsi.
Di balik peningkatan produksi tersebut, kebutuhan modal kerja juga terus bertambah. Biaya operasional terbesar berasal dari penyediaan pakan. Pada fase awal, benih harus diberi pakan cacing sutra selama 15 hingga 20 hari sebelum beralih menggunakan pelet.
Dalam satu siklus produksi, kebutuhan cacing sutra mencapai sekitar Rp88,7 juta, sedangkan biaya pembelian pelet sekitar Rp15,3 juta. Selain itu, kualitas air kolam juga harus dijaga melalui penggunaan air sumur dan penggantian air secara berkala untuk mengurangi risiko penyakit pada benih.
Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, Miasa memanfaatkan fasilitas KUR BRI. Pinjaman yang awalnya sebesar Rp25 juta kini meningkat menjadi Rp100 juta seiring perkembangan usahanya.
“Kebutuhan modal di usaha pembibitan memang cukup besar, terutama untuk pakan karena itu yang paling banyak menyerap biaya. Dengan adanya KUR BRI, saya lebih terbantu untuk menambah modal kerja sehingga produksi bisa terus berjalan dan permintaan pelanggan tetap bisa kami penuhi. Dari awal pinjam Rp25 juta sampai sekarang plafonnya meningkat menjadi Rp100 juta karena usaha juga terus berkembang,” ujar Miasa.
Ia berharap usahanya dapat terus berkembang sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas jangkauan pemasaran bibit lele ke lebih banyak daerah di Bali.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan pembiayaan melalui KUR merupakan bentuk dukungan BRI terhadap pengembangan UMKM produktif yang memiliki prospek usaha.
“KUR BRI hadir untuk memberikan akses pembiayaan kepada pelaku UMKM yang memiliki usaha produktif dan prospektif. Kami berharap pembiayaan ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat modal kerja, meningkatkan produktivitas, serta memperluas kesempatan usaha sehingga UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Hery.
Menurutnya, sektor perikanan budidaya memiliki peluang besar untuk terus berkembang karena tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“BRI akan terus mendorong penyaluran KUR kepada sektor-sektor produktif agar semakin banyak pelaku UMKM yang mampu meningkatkan skala usahanya, memperluas pasar, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Hery.(yud/ub)





