UPDATEBALI.com, DENPASAR – Komunitas Seni Nyenit-Nyenir dari Banjar Sulangai, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, tampil sebagai Duta Kabupaten Badung dalam Rekasadana (Pergelaran) Semara Pegulingan dengan menyuguhkan karya bertajuk “Kartika Masa” dan Tari Jauk Longor.
Pemestasan berlangsung di Gedung Gedung Ksirarnawa pada Kamis, 25 Juni 2026 memberikan penampilan maksimal di hadapan para pengunjung.
Penampilan tersebut menjadi media penyampaian pesan spiritual tentang pentingnya menjaga kesucian jiwa dan keharmonisan alam sesuai konsep Atma Kerthi.
Pergelaran yang dibina oleh I Wayan Kartika, S.Sn., menghadirkan garapan karawitan baru yang memadukan karakter gamelan Pelegongan, Bebarongan, serta Semara Pegulingan saih lima dan saih pitu. Perpaduan tersebut menghasilkan komposisi musikal yang tetap mempertahankan pakem masing-masing barungan gamelan, namun dikemas dalam nuansa baru yang harmonis.
Melalui garapan tersebut, Komunitas Seni Nyenit-Nyenir mengangkat kisah Wong Samar, sosok yang selama ini kerap dipersepsikan menyeramkan karena keberadaannya yang bersifat niskala. Dalam perspektif karya, Wong Samar justru digambarkan sebagai makhluk yang setia mengabdi dan menjaga kesucian Pura Pucak Pegametan di Desa Sulangai, tempat berstananya Ida Dang Hyang Nirartha.
Kartika menjelaskan Nilai Atma Kerthi menjadi benang merah dalam pertunjukan ini dengan menyampaikan pesan agar manusia menghormati seluruh ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, termasuk makhluk tak kasat mata yang dipercaya memiliki peran menjaga keseimbangan alam semesta.
Selain tabuh kreasi, pementasan juga menampilkan Tari Jauk Longor yang mengisahkan perjalanan batin seorang raja raksasa penjaga hutan. Tokoh tersebut digambarkan berjuang menaklukkan sifat-sifat negatif dalam dirinya, seperti amarah, keserakahan, dan ego, demi menjaga keharmonisan kehidupan.
Dalam filosofi Atma Kerthi, hutan dimaknai sebagai simbol alam batin manusia, sedangkan sosok raksasa melambangkan kekuatan dalam diri yang harus disadari dan disucikan. Gerakan tari yang tegas, dinamis, dan penuh wibawa menjadi representasi perjuangan manusia mengendalikan Sad Ripu atau enam musuh dalam diri agar mencapai keseimbangan jiwa.
Secara historis, Tari Jauk Longor berakar dari koreografi yang dikembangkan maestro tari Bali, I Nyoman Kaler, kemudian dikembangkan kembali dengan pendekatan artistik yang tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi.
Sementara itu, tabuh kreasi “Kartika Masa” yang ditata oleh I Wayan Sumayasa, S.Pd., mengangkat makna cahaya bintang sebagai simbol penuntun perjalanan hidup manusia. Komposisi tersebut menggambarkan proses pencarian keseimbangan antara pikiran, perasaan, dan tindakan melalui karakter gamelan Semara Pegulingan yang lembut, agung, sekaligus dinamis.
Melalui eksplorasi melodi, ritme, tempo, dinamika, dan patet, karya ini merepresentasikan berbagai dinamika kehidupan, mulai dari godaan hingga proses penyucian diri yang harus dilalui manusia untuk mencapai kebijaksanaan.
“Pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga kemurnian jiwa agar selalu memperoleh tuntunan menuju kehidupan yang damai, harmonis, dan bermakna,” ungkap Kartika.
Pergelaran yang melibatkan seluruh penabuh dan penari Komunitas Seni Nyenit-Nyenir ini sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus pengembangan seni budaya Bali.(adv/ub)





