spot_img
spot_img
BerandaBaliBRImo Permudah Transaksi, Perajin Tedung Klungkung Kini Makin Siap Hadapi Era Digital

BRImo Permudah Transaksi, Perajin Tedung Klungkung Kini Makin Siap Hadapi Era Digital

UPDATEBALI.com, KLUNGKUNG – Di tengah derasnya modernisasi dan tantangan mencari bahan baku, para perajin tedung di Desa Paksebali, Kabupaten Klungkung, masih menjaga eksistensi kerajinan tradisional yang menjadi bagian penting dari kebutuhan upacara adat Hindu di Bali.

Salah satu pelaku usaha yang konsisten mempertahankan tradisi tersebut adalah Anak Agung Gede Anom Suwastika, perajin tedung asal kawasan Puri Satria Kanginan.

Usaha yang kini digelutinya bukanlah bisnis baru. Keterampilan membuat tedung telah diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Setelah menyelesaikan karier di dunia perhotelan beberapa tahun lalu, Suwastika memutuskan kembali menekuni usaha keluarga yang telah dikenalnya sejak kecil.

“Dari kecil memang sudah lihat ibu membuat tedung. Jadi basic-nya memang dari keluarga,” ujarnya.

Di rumah produksinya, aktivitas pembuatan tedung masih berlangsung setiap hari. Berbagai ukuran tedung diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar, mulai dari ukuran 90 sentimeter hingga satu seperempat meter. Produk-produk tersebut dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di Bali, termasuk Pasar Sanglah, Pasar Kreneng, hingga Pasar Kumbasari di Denpasar.

Baca Juga:  Bupati Kembang Dorong Koperasi Jembrana Adaptif di Era Digital

Permintaan cenderung meningkat menjelang hari raya keagamaan. Pada periode normal, produksi mencapai sekitar 20 unit per hari, namun saat mendekati Hari Raya Galungan jumlahnya bisa berlipat ganda.

“Kalau mendekati Galungan biasanya kewalahan karena permintaan naik terus. Kadang terkendala bahan baku,” katanya.

Selain meningkatnya permintaan, tantangan terbesar yang dihadapi para perajin adalah ketersediaan bahan baku. Kayu dan bambu berkualitas untuk rangka tedung semakin sulit diperoleh, terutama saat musim penghujan. Kondisi tersebut kerap memengaruhi kelancaran produksi.

Di kawasan Puri Satria Kanginan sendiri, usaha kerajinan tedung menjadi sumber mata pencaharian bagi puluhan warga. Sekitar 20 pelaku usaha tergabung dalam Klaster Tedung Paksebali yang juga memproduksi berbagai perlengkapan upacara lainnya seperti prada dan ider-ider.

Baca Juga:  Pemkab Badung Salurkan Bantuan ke 4.160 UMKM

Untuk menjaga keberlangsungan produksi, Suwastika memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI senilai Rp100 juta. Dana tersebut digunakan sebagai modal untuk membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar sehingga kebutuhan produksi tetap terpenuhi saat permintaan meningkat.

“Bantuan KUR sangat membantu untuk modal beli bahan dulu sebelum diputar kembali,” katanya.

Tidak hanya dari sisi pembiayaan, transformasi digital juga mulai dirasakan manfaatnya oleh para pelaku usaha tradisional. Saat ini transaksi pembayaran dengan pelanggan sebagian besar dilakukan secara non-tunai melalui aplikasi BRImo, sehingga proses pembayaran menjadi lebih praktis dan efisien.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menilai usaha pembuatan tedung memiliki potensi ekonomi yang terus tumbuh karena kebutuhan masyarakat Bali terhadap sarana upacara adat relatif stabil sepanjang tahun.

Baca Juga:  Dharma Negara Alaya Jadi Pusat Kreativitas Anak Muda Melalui DNA NITE 2024

“Melihat potensi permintaan yang selalu ada, terutama di Bali, aktivitas ekonomi seperti ini harus terus didorong karena mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan layanan digital perbankan tidak hanya mempermudah transaksi pembayaran, tetapi juga membantu pelaku usaha dalam mengelola keuangan dan aktivitas usaha sehari-hari.

“Dengan catatan transaksi yang lebih rapi, pelaku usaha nantinya juga lebih mudah mengakses kredit perbankan,” katanya.

Kombinasi antara pelestarian tradisi, dukungan pembiayaan usaha, dan pemanfaatan teknologi digital menjadi modal penting bagi para perajin tedung di Paksebali untuk terus bertahan dan berkembang. Di tengah perubahan zaman, kerajinan yang lahir dari budaya Bali ini tetap memiliki ruang untuk tumbuh sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dari generasi ke generasi.(yud/ub)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments